Sarapan Sehat Demi Indonesia Cerdas dan Kuat di Masa Depan

Pendahuluan
Indonesia merupakan negara besar dengan jumlah penduduk mencapai 237 juta jiwa lebih (BPS, 2010). Selain jumlah penduduk yang besar, Indonesia juga dikaruniai dengan banyaknya potensi alam yang tersebar di hampir seluruh sudut negara ini. Pengelolaan yang baik dari potensi SDA dan SDM di Indonesia tentu akan mampu membawa negara ini menjadi lebih baik. Sebelum reformasi, Indonesia sebenarnya pernah menjadi “Macan Asia” baik saat pemerintahan Presiden Soekarno (1945-1966) maupun pada saat pemerintahan Presiden Soeharto (1966-1998). Sayangnya, kedigdayaan Indonesia saat itu hancur pasca krisis moneter hingga saat ini kita belum mampu utuk bangkit kembali.

Banyak cara bagi Indonesia untuk dapat bangkit kembali, namun semuanya tentu membutuhkan usaha dan proses yang tidak sebentar. Bijak bagi kita untuk tidak gegabah dalam merumuskan dan memilih strategi untuk membangkitkan bangsa ini. Ada baiknya kita membaca sejarah dua negara tetangga kita yang berusia jauh lebih muda dari kita, namun saat ini mampu melebihi kita dalam hampir seluruh aspek. Dua negara tersebut dahulu pernah berusaha kita cegah berdirinya melalui Dwi Komando Rakyat (Dwikora) yang digagas oleh Presiden Soekarno. Negara itu adalah Singapura dan Malaysia.
Singapura, pada awal berdirinya (1965) merupakan sebuah negara kecil, miskin, tanpa sumber daya alam, perumahan yang tidak layak, konflik antar etnis, banyaknya pengangguran, angka kelahiran yang tinggi, dan kurangnya pekerja dengan pendidikan yang baik. Negara itu pun pada akhirnya memfokuskan kebijakan negaranya pada pembangunan SDM melalui pendidikan yang berbasis pada industri dan persatuan antar etnis. Usaha tersebut akhirnya berbuah manis, saat ini Singapura telah berhasil menjadi negara yang maju dengan GDP tinggi dan menjadi salah satu negara maju di benua Asia (Yew, 2000).

Malaysia sendiri berawal dari sebuah koloni miskin dari kerajaan Inggris, yang bahkan di awal berdirinya harus mendapatkan teror dari negara tetangga yang telah menjadi salah satu negara maju di dunia (Indonesia). Namun, mereka pada akhirnya dapat tetap bertahan. Pemerintah Malaysia pun, akhirnya memfokuskan usaha negerinya untuk pengembangan SDM dan pembuatan lapangan kerja sehingga saat ini Malaysia menjadi negara maju yang bahkan harus mengimpor pekerja dari negara-negara sekitarnya (Stiglitz, 2007).
Kisah sukses dua negara di atas alangkah baiknya menjadi bahan pertimbangan kita semua untuk menata dasar bagi Indonesia yang sukses di masa yang akan datang. Kedua negara tersebut memiliki kesamaan, yaitu pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni agar pada gilirannya dapat membangun negeri. Proses pengembangan SDM tidak dapat berjalan dengan baik bila kesehatan dari SDM itu sendiri terganggu. Oleh karena itulah kesehatan merupakan sebuah masalah utama yang harus diselesaikan sebelum beranjak ke proses pengembangan yang selanjutnya. Salah satu cara untuk menjaga kesehatan adalah dengan merutinkan kebiasaan sarapan.

Rumusan Masalah
Sarapan merupakan sebuah proses untuk memenuhi 20-25% kebutuhan kalori dalam sehari (Khomsan, 2003). Namun, hubungan antara sarapan dengan terciptanya generasi sehat dan cerdas masih menimbulkan tanda tanya:
1. Apakah hubungan sarapan dengan generasi sehat dan cerdas?
2. Apakah manfaat sarapan bagi anak?
3. Apakah manfaat membiasakan sarapan akan bermanfaat hingga dewasa?

Metode
Strategi Pencarian
Penulis memakai strategi pencarian dengan menggunakan “Science Direct” dan “PubMed” dengan kata kunci breakfast.

Kriteria Pemilihan
Pemilihan didasarkan pada beberapa aspek,

  • Penelitian dilakukan pada manusia.
  • Penelitian dilakukan tidak lebih dari 10 tahun yang lalu.
  • Penelitian berfokus pada sarapan dan hubungannya dengan manusia.

Strategi Pembahasan
Penulis akan membahas langsung ke inti dari jurnal-jurnal yang ada.

Hasil
Ditemukan 42.133 artikel di Science Direct dan 6445 artikel di PubMed yang mengandung kata kunci breakfast. Dari artikel-artikel tersebut dipilih 50 teratas untuk kemudian dilakukan penyeleksian. Pada akhirnya diketemukan 32 artikel yang yang membahas sarapan, kemudian penulis kerucutkan lagi kepada dampak sarapan dan dampak meninggalkan sarapan. Hasil pengerucutan tersebut mendapatkan 15 artikel yang sesuai.

Pembahasan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, generasi artinya adalah (1) sekalian orang yang kira-kira sama waktu hidupnya; angkatan; turunan; (2) masa orang-orang satu angkatan hidup, sedangkan sarapan artinya adalah makanan pagi hari, makanan pada pagi hari.
Sarapan seringkali merupakan kegiatan yang dilewatkan oleh beberapa orang dengan alasan sempitnya waktu, repot, ataupun malas. Padahal saat ini telah tersedia berbagai jenis sarapan siap santap (misalnya: roti dan sereal) yang tidak memerlukan persiapan yang lama untuk mengkonsumsinya, sehingga alasan repot dan sempitnya waktu tentu sudah tidak relevan lagi. Rasa malas muncul dikarenakan ketidakpahaman seseorang terhadap dampak positif yang diterima ataupun dampak negatif yang dirasakan jika kita melakukan sesuatu.

Sarapan memberikan pengaruh yang positif bagi kita terutama dalam beberapa hal,
1. Sarapan dapat mencegah terjadinya obesitas sekaligus menjaga lingkar pinggang tetap kecil.
2. Sarapan dapat meningkatkan konsentrasi dan performa kognitif terutama di pagi hari
3. Sarapan mencegah timbulnya penyakit kardiovaskular
4. Sarapan membuat kita beraktivitas fisik lebih aktif
5. Sarapan menimbulkan perasaan gembira.
6. Rutin sarapan dapat meningkatkan IQ anak.

Kelima dampak positif tersebut tentu sudah cukup menjadi alasan kita untuk membiasakan sarapan dan terus menyarankan pada anak-anak kita untuk tetap sarapan. Sebagai catatan, sarapan dengan makanan yang mengandung karbohidrat kompleks dan indeks glukosa rendah dapat membuat konsentrasi kita bertahan lebih lama (Wesnes, et al., 2003 dan Ingwersen, 2006). Hal ini terjadi dikarenakan sarapan dengan makanan yang rendah IG atau yang kaya karbohidrat kompleks akan bertahan lebih lama di dalam saluran pencernaan sehingga menjaga perasaan kenyang sekaligus mengurai energi secara bertahap.

Keseluruhan dampak langsung sarapan tersebut dapat memiliki implikasi berupa dampak tidak langsung yang sangat banyak. Misalnya, dampak pencegahan obesitas dapat berimplikasi pada peningkatan usia harapan hidup (karena morbiditas berkurang), peningkatan indeks kebahagiaan hidup, anak-anak yang semangat belajar, dan peningkatan prestasi belajar yang selanjutnya dapat memberikan implikasi positif bagi generasi selanjutnya.

Kesimpulan

  • Sarapan dapat membentuk generasi sehat dan cerdas dikarenakan sarapan membuat anak-anak menjadi lebih aktif dan berkonsentrasi sehingga dapat menerima proses pembelajaran dengan lebih baik.
  • Sarapan bermanfaat bagi anak karena dapat meningkatkan konsentrasi dan kemampuan kognitif, meningkatkan IQ anak, mencegah obesitas dan kegemukan, dan membuat anak menjadi lebih aktif.
  • Manfaat yang diterima saat anak masih kecil dapat bermanfaat hingga dewasa nanti, mulai dari kondisi kesehatan yang lebih baik, tercegah dari obesitas dan kegemukan, angka morbiditas yang lebih rendah, dan lain sebagainya.
  • Saran

  • Hendaknya orang tua mendukung kebiasaan anak untuk selalu sarapan dengan cara membangunkan anak tepat waktu, menyiapkan makanan yang bergizi, dan memberikan contoh yang positif bagi anak.
  • Sekolah haruslah turut mendukung anak-anak agar sarapan di rumah, mungkin bisa dengan menyediakan sarapan bersama di sekolah, atau dengan memberikan penyuluhan kepada orang tua terkait pentingnya sarapan.