Kebiasaan Makan Fast Food Membuat Nilai Ulangan Jelek

Penelitian di Amerika Serikat menemukan hubungan antara performa anak-anak di sekolah dengan jumlah makanan cepat saji (Burger, Fried Chicken, Hotdog, dsb) yang mereka santap.

Semakin sering seorang anak mengkonsumsi makanan cepat saji di kelas V dapat menurunkan kemampuan membaca, menghitung, dan memahami ilmu pengetahuan alam di kelas VIII.

Anak yang paling banyak mengkonsumsi makanan cepat saji memiliki nilai ujian 20% lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak mengkonsumsi makanan cepat saji. Hal ini disampaikan oleh Kelly Purtell, ketua peneliti dan asisten profesor bidang sains manusia di Ohio State University.

Ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa konsumsi makanan cepat saji berhubungan dengan obesitas pada anak, namun masalah tidak berhenti di situ. “Terlalu bergantung dengan makanan cepat saji dapat menurunkan performa anak di dalam kelas.”, kata Purtell.

Hasil ini tetap bertahan meskipun beberapa variabel lain telah ditambahkan. Semisal intensitas olahraga, lama waktu menonton TV, makanan lain yang dikonsumsi, kondisi sosio-ekonomi keluarga, dan karakteristik keluarga dan sekolah.

“Kami melakukan sejauh yang kami bisa untuk mengontrol dan memasukkan semua faktor yang kami ketahui yang mungkin mempengaruhi sebaik apa seorang anak melakukan test ini”, tambah Purtell.

Purtell melakukan penelitian bersama dengan Elizabeth Gershoff, asisten profesor ekologi manusia di University of Texas at Austin. Hasil dari penelitian ini dipublikasikan seccara online di dalam jurnal Clinical Pediatrics.

Data dari penelitian ini dimasukkan dari the Early Childhood Longitudinal Study–Kindergarten Cohort, studi yang merepresentasikan dari anak-anak yang berada di taman kanak-kanak pada tahun ajaran 1998-1999. Data ini dikumpulkan dari the Pusat Statistika Pendidikan Nasional (the National Center for Educational Statistics).

Studi ini melibatkan 11.740 siswa. Mereka di tes dalam bidang membaca/literasi, matematika, dan ilmu pengetahuan alam di kelas V dan kelas VIII. Mereka juga menyelesaikan kuesioner konsumsi makanan di kelas V.

“Konsumsi makanan cepat saji memang agak tinggi pada anak-anak ini,” kata Purtell.

Kurang dari sepertiga (29%) dari anak-anak tidak mengkonsumsi makanan cepat saji apapun selama satu minggu sebelum mereka menyelesaikan kuesioner. 10% melaporkan mengkonsumsi makanan cepat saji setiap hari dan 10% yang lain mengkonsumsi makanan cepat saji 4 -6 kali dalam seminggu. Sedikit lebih dari setengah anak-anak mengkonsumsi makanan cepat saji satu sampai dua kali di minggu sebelumnya.

Anak-anak yang mengkonsumsi makanan cepat saji empat sampai enam kali per minggu atau setiap hari menunjukkan penurunan signifikan dari hasil tes di tiga area dibandingkan dngan anak-anak yang tidak mengkonsumsi makanan cepat saji seminggu sebelum survei.

Bagaimanapun, anak-anak yang mengkonsumsi makanan cepat saji hanya sekali sampai tiga hari perminggu memiliki nilai akademik yang lebih rendah dibandingkan dengan yang sama sekali tidak mengkonsumsinya di satu bidang, matematika.

“Kami tidak mengatakan bahwa orang tua tidak boleh memberikan anak mereka makanan cepat saji, tetapi hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsumsi makanan cepat saji haris dibatasi semaksimal mungkin,” kata Purtell.

Purtell menekankan bahwa studi ini tidak bisa membuktikan bahwa makanan cepat saji menyebabkan pertumbuhan akademik lebih rendah seperti yang terlihat pada penelitian ini. Namun, dengna mengontrol faktor-faktor lain yang bisa menjelaskan hubungan ini, misalnya latar belakang keluarga dan makanan lain yang mereka konsumsi, dan dengan melihat pada perubahan di nilai capaian, peneliti cukup percaya diri untuk mengatakan bahwa makanan cepat saji menjelaskan beberapa perbedaan dalam pencapaian nilai selama ini.

Sebagai tambahan, dikarenakan penelitian ini hanya mengamati perubahan dalam nilai ujian antara kelas V dan kelas VIII, bukan tidak mungkin bahwa faktor awal masa pertumbuhan juga mempengaruhi besar nilai ujian.

Penelitian ini tidak bisa menjelaskan mengapa konsumsi makanan cepat saji berhubungan tengan nilai yang lebih rendah. Namun, penelitian lain menunjukkan bahwa makanan cepat saji memiliki kekurangan kandungan gizi, terutama zat besi, yang membantu perkembangan kognitif. Sebagai tambahan, diet tinggi gula dan lemak – sama seperti makanan cepat saji –telah diketahui mengganggu ingatan jangka pendek dan proses belajar.

sumber: Ohio State University